[REVIEW] I Am Number Four


Judul                           : I Am Number Four
Penulis                         : Pittacus Lore
Penerjemah                  : Nur Aini
Penyunting                  : Esti A. Budihabsari
Desain Sampul            : Bluegarden
Proofreader                 : Ocllivia Dwiyanti P.
Tebal                           : 493 halaman
ISBN                           : 978-979-433-606-9
Penerbit                       : Penerbit Mizan Fantasi

Blurb

Kami hidup tersamar di tengah-tentah kalian, di kota kalian, menjadi tetangga kalian. Menunggu hari saat kami saling bertemu untuk bertempur terakhir kalinya. Bila kami menang, kalian akan terselamatkan. Bila kami kalah, semu akan musnah,

Sepuluh tahun lalu, sembilan anak dilarikan ke Bumi dari Planet Lorien yang hancur karena perang. Anak-anak tersebut disembunyikan di berbagai tempat di Bumi dan dimantrai sehingga kaum Mogadorian yang kejam tak bisa membunuh mereka keculai secara berurutan. Kini, satu per satu anak itu terbunuh, sesuai urutan nomornya: Satu, Dua, Tiga. Dan, John Smith adalah Nomor Empat.

Itulah sebabnya John selalu dalam pelarian. Berpindah-pindah, memakai nama dan identitas baru setiap enam bulan. Hingga pelariannya itu membawanya ke Paradise, Ohio, tempat dia menemukan Sarah – menemukan cintanya. Dan John tak ingin lari lagi. Dia bertekad untuk melawan. Dia pun berjuang mengembangkan kekuatannya, Pusaka Lorien, untuk melawan kaum Mogadorian yang terus memburu.

Berhasilkah John mengalahkan kaum Mogadorian? Ataukah John harus meninggalkan Sarah dan hidup diburu selamanya?

Alur Cerita

John Smith, Si Nomer Empat, harus kembali pindah tempat. Pasalnya, Nomer Tiga telah terbunuh oleh Kaum Mogadorian. John mengetahui jika Nomer Tiga telah tebunuh saat mengadakan pesta di sebuah kapal. Tiba-tiba di kakinya terbakar dan sebuah goresan terpatri di pergelangan kakinya.

Kali ini tempat persembunyian John agar terhindar dari kejaran kaum Mogadorian adalah sebuah kota kecil di Ohio bernama Paradise. Di Paradise inilah John kemudian menemukan Sam (seorang teman yang percaya jika Alien memang ada) dan Sarah (gadis terkenal yang kemudian dicintainya).

Kisah John semakin tegang saat pusaka pertamanya Lumen (dia bisa memunculkan cahaya dari tubuhnya dan tahan terhadap api) muncul di sekolah. Hal tersebut membuat geger sekolah dan membuat dia mendapatkan cap pecundang dari gank baseball yang dikepalai oleh Mark (Kebetulan Mark ini mantan Sarah yang masih ngejar-ngejar gitu).

Sebagai kisah sci fic, kisah ini memang penuh konflik yang bertumpuk-tumpuk. Mulai dari masalah Sam yang kemudian turut masuk dan memengaruh alur cerita, masalah dengan Mark karena John dekat dengan Sarah dan pertarungan dengan para Mogadorian.

Puncak konflik terjadi secara epic melalui pertarungan antara John melawan Mogadorian dibantu oleh Sam (eh iya, di detik-detik akhir Si Nomer Enam ternyata muncul loh). Yang perlu diikuti pula adalah perjalanan Henri mengiringi John.

Siapa Henri? Ah mending baca sendiri deh biar tahu siapa itu Henri.

Review

Menurut saya, untuk sebuah novel fantasi, Pittacus Lore sudah berhasil menyajikan kisah penuh aksi dan drama. Tahapan alur yang dibuat juga sangat sistematis mulai dari perkenalan tokoh, tahap pertentangan, munculnya konflik, puncak konflik sampai penyelesaian. Semuanya urut dan rapi banget.

Kayak baju diseterika.

Dan, justru karena urutan yang sangat rapi itu membuat saya agak aneh jadinya. Bukannya saya nggak menaati aturan pengaluran sebuah cerita. Tetapi justru bagi saya, alur yang sangat rapi, bisa membunuh ceritanya sendiri. Kesannya si penulis nulisnya sambil mikir gitu. Jadi yang baca juga nggak bisa lepas.

Untungnya, yang bikin saya demen, Si Tetua Planet Lorien ini memberi jarak yang sedikit sekali antara puncak konflik dan penyelesaiannya. Maksudnya begini, setelah konflik muncul, konflik tersebut segera terselesaikan. Dalam novel ini berarti, setelah terjadi pertempuran, penyelesaian langsung muncul setelahnya.

Yah, meskipun endingnya agak gimana gitu menurut saya. Terkesan dipaksain. Masa abis bertarung tiba-tiba gitu.

Terus untuk gaya bahasanya menurut saya kaku juga sebenarnya. Banyak sekali novel fantasi yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris yang sudah saya baca, dan, menurut saya novel ini masuk dalam kategori yang bertele-tele menurut saya.

Bukannya berniat sarkastik, hanya saja saya mencoba menuliskan sesuai dengan apa yang saya baca. Jadi maafkan ya.

Untuk yang lain menurut saya oke, penokohannya juga kuat, settingnya apalagi, saya sukak. Tragedi-tragedi dimasa lalu ditulis dengan detail dan saling terkait dengan apa yang terjadi saat ini, saat dimana cerita yang dimainkan tokohnya berlangsung. Pesannya juga sederhana, ada pesan-pesan kecil yang terselip di beberapa bab.

Good job deh buat Mbah Pittacus Lore.

Rating

Saya kasih 3.9 dari 5 bintang yang saya miliki.


0 comments:

Post a Comment