2019 Akankah Lebih Berwarna: Prediksi Dunia Literasi Dan Perbukuan Indonesia


Tahun baru udah seminggu lalu sih yah. Harusnya tulisan ini diposting pas tahun baru. Cuma berhubung kesibukan saya (ampun… sok sibuk banget) yang buanyak banget. Jadi tulisan ini terpaksa saya posting sekarang.

Tapi nggak papa kan ya??? Moga aja belum basi-basi amat lah.

Nah, sesuai judul artikelnya, saya cuma ingin memberikan paparan ringan aja sih tentang prediksi dunia literasi dan perbukuan di Indonesia selama setahun kedepan. Jadi nggak berat-berat amat kok. 

Semoga aja bahasanya nanti juga nggak berat dan bikin pusing. Soalnya udah bawaan orok kalau bahas hal yang ginian biasanya saya langsung jadi serius. Jadi maafin ya kalau nanti di tengah paparan tiba-tiba bahasanya jadi kaku gitu.

Oke, kita lanjut ya

Siap???

Begini, sebetulnya geliat dunia literasi dan perbukuan di Indonesia tahun depan nggak akan jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena memang tren literasi dan perbukuan di Indonesia cenderung sama dari tahun ke tahun.

Cuma kita nggak bisa menyepelekan kemajuan teknologi informasi yang mau nggak mau bikin semua hal dalam kehidupan ini berubah, termasuk dalam dunia literasi dan perbukuan. 

Daripada lama-lama, cermati aja deh daftarnya berikut ini.

Prediksi Dunia Literasi dan Perbukuan Tahun 2019

1. Meneruskan kejayaan para penulis wattpad

Watties (sebutan bagi para penulis di Wattpad) tidak bisa dianggap remeh. Mereka yang sudah lebih dulu memulai sudah mulai memetik hasilnya sekarang. Sebut saja Luluk HF dengan novel Mariposa-nya. Setelah berjaya di wattpad, sang penulispun akhirnya mencetak bukunya dalam bentuk fisik.

*psft, versi wattpad dan cetaknya sama-sama laris kayak kacang goreng. Hebat banget kan ya?

Apakah Luluk HF saja? No. Ada banyak sekali penulis wattpad yang sudah mencetak bukunya. 

Tren ini beberapa tahun terakhir memang sedang marak. Para penulis baru memulai tulisanya di wattpad sebagai bentuk teaser. Jika responnya positif hingga dibaca belasan atau puluhan juta kali, mereka akan mencetaknya. 

Hanya saja, setahun kedepan tren ini akan semakin meningkat. Karena menurut saya, ini masih menurut saya ya, para penulis wattpad baik yang lama atau yang baru akan semakin berlomba-lomba membuat cerita yang menarik untuk mencapai kesuksesan yang sama seperti penulis wattpad yang udah lebih dulu sukses.

2. Genre buku akan didominasi oleh Romance Remaja

Coba aja berkunjung ke sebuah toko buku di kota kamu. Saya berani jamin, dari deretan buku yang cantik-cantik itu, pasti didominasi oleh romance remaja. Memang sih sebuah toko buku akan memajang buku sesuai genre secara proporsional. Apalagi jika toko buku itu tergabung dengan  penerbit tertentu seperti gramedia. 

Tapi, toko buku juga tempat cari keuntungan. Mereka akan memajang lebih banyak buku yang memiliki banyak peminat. 

Sebenarnya genre romance akan mendominasi, tapi secara khusus romance remaja akan merajai. Ya kita lihat aja setahun kedepan, buku jenis apa yang akan banyak di keluarkan oleh penerbit mayor dan penerbit minor.

3. Buku-buku lama akan ‘bangkit dari kubur’

Awalnya saya nggak memprediksikan hal ini sama sekali. Cuma setelah saya ngobrol dengan murid les saya hal ini muncul dalam otak saja begitu saja. Kegiatan literasi yang digalakkan di sekolah-sekolah saat ini menuntut siswa untuk membaca beberapa karya sastra lama (selain karya sastra baru).

Di sekolah murid les saya itu, setiap siswa di beri beberapa judul karya lama dan bebas memilih karya baru. Karya sastra lama itu diantaranya Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis, Bumi Manusia milik Pramoedya Ananta Toer dan Salah Asuhan bikinan Marah Rusli.

Nah, setahun kedepan saya yakin buku-buku lama dari penulis lain macam itu akan bermunculan kembali. I think this is a good news.

4. Penulis-penulis lama akan banyak yang ‘pensiun’

Bukan pensiun dalam arti yang sebenarnya sih. Mungkin saja mereka hiatus (istirahat sementara), mengehentikan sementara pencetakan bukunya, mengalihkan bukunya dari bentuk fisik ke bentuk digital atau hanya melayani pre order.

Karena memang industri perbukuan Indonesia saat ini agak kurang menentu ya, dan lebih banyak merugikan penulis sih sebenarnya. Mulai dari rendahnya royalti, potongan pajak, sampai persaingan yang semakin ketat. 

Ya, meskipun alasan-alasan itu bukan melulu jadi alasan utama kenapa para penulis lama banyak yang ‘pensiun’. Cuma tanda-tanda bahwa penulis lama mulai ‘pensiun’ sudah muncul. Sebut saja Andrea Hirata yang kabarnya akan berhenti menulis dan nggak tahu kapan akan menulis lagi setelah menerbitkan buku terakhirnya, Sirkus Pohon.

5. (Kemungkinan) Muncul penulis baru yang menggeser penulis lama

‘Pensiun-nya’ penulis lama memberikan angin segar bagi para penulis baru yang lebih memanfaatkan kemajuan teknologi untuk berkarya. Para penulis baru (mungkin kamu diantaranya) akan lebih sering menggunakan platform berbasis internet untuk memamerkan karya, seperti wattpad misalnya. Mereka yang tidak menyukai wattpad pun akan berkreasi melalui tumblr, blog, facebook notes atau media yang lain.

Ini belum para penulis yang bergabung dengan komunitas dan lebih suka menulis keroyokan. Mereka ini para penulis baru yang sangat berpotensi viral atau terkenal di tahun 2019 nanti. So, intinya, persaingan antar penulis akan semakin ketat. 

Tetap semangat menulis ya writers.

6. Maraknya buku pre-order dan buku digital

Mahalnya buku fisik membuat para penulis dan penerbit akan beralih ke buku pre order dan buku digital. 

Buku pre order memang biasanya lebih mahal daripada buku fisik. Tapi buku pre order memberikan waktu bagi para pecinta buku untuk mengumpulkan uangnya sebelum akhirnya membeli buku tersebut. Selain itu waktu yang dibatasi dalam buku pre order menjadi alasan tersendiri bagi pencinta buku karena tidak setiap hari buku itu dicetak.

Sementara buku digital jauh lebih murah dari buku fisik. Karena bentuknya file sehingga bisa disimpan di gawai seperti telepon pintar. Bentuknya yang nggak besar dan bisa diakses dimanapun dan kapanpun membuat buku ini lebih banyak dilirik oleh pecinta buku.

Jadi, mau masih menyangkal kalau buku pre order dan buku digital nggak bakalan booming di tahun 2019?

7. Bangkitnya penerbit minor dan indie

Penerbit mayor atau penerbit besar selalu punya standar yang cukup tinggi dalam menyeleksi naskah dari para penulis. Makannya nggak jarang dari seratus naskah yang masuk hanya lima hingga sepuluh saja yang diterima. Lha sisanya kemana? Ya dibuang dong ke tempat sampah.

Sementara, di negeri tercinta kita ini, banyak sekali orang yang ‘ingin jadi penulis’ dan nerbitin bukunya. Termasuk saya sih. #hehehehe

Nah ini jadi kesempatan bagi penerbit minor dan indie. Mereka menyediakan jasa menerbitkan buku yang tanpa proses seleksi. Ada yang gratis ada pula yang berbayar. Tergantung si penerbitnya. Terlepas dari kualitas tulisan yang dihasilkan, penerbit minor dan indie ini menjadi semacam dewa penolong bagi para penulis.

Bahkan, sekarang ini, penerbit mayor pun sudah ikut-ikutan membuat lini penerbitan minor dan indie. Sebut saja Indie Stiletto Book yang merupakan anak usaha Penerbit Stiletto atau Mizan Indie Publishing milik Penerbit Mizan.

8. Semakin banyak buku yang jadi film

Dylan 1990 mungkin jadi tolak ukur dalam hal ini, meskipun sebenarnya sebelum Dylan 1990 sudah banyak buku yang diangkat menjadi film. Cuma kesuksesan yang didapat Dylan 1990 menjadi nilai tersendiri. Ternyata sebuah film yang diangkat dari sebuah buku juga bisa mendapat kesuksesan yang sama seperti bukunya.

Oh ya, buku-buku seri wattpad juga banyak lho yang diangkat menjadi film. Sebut saja Galaksi dan Melodylan. 

Dan, menurut saya, setahun kedepan akan semakin banyak buku-buku yang diangkat menjadi film. Terlebih buku-buku yang sudah punya pembaca setia. Karena kalau mengikuti hitung-hitungan sederhana, sebuah buku yang punya banyak pembaca akan memiliki penonton yang banyak pula saat difilmkan.

Jelas ini jadi ‘makanan empuk’ bagi film maker. Mereka juga berkarya membuat film, tapi tak lupa pula kan untuk memperoleh keuntungan.

9. Komunitas baca semakin marak

Jujur saja ya, saya agak pesimistis dengan semangat literasi dan minat baca masyarakat kita. Ya meskipun nggak boleh sih seperti itu. 

Tapi saya tetap optimistis kok kalau kalau minat baca dan semangat literasi masyarakat kita bisa dibentuk dan ditumbuhkan. Saya yakin diluar sana juga banyak orang optimis yang sudah bertindak dengan mendirikan komunitas baca.

Mereka membuat komunitas baca baik secara online maupun offline. Dan setahun kedepan, akan semakin banyak komunitas baca yang bermunculan. Karena saat ini kegiatan literasi juga digalakkan oleh pemerintah, masuk kurikulum sekolah pula. 

So, nggak ada salahnya tetap optimis.

Hmmm….

Itu dia prediksi dunia literasi dan perbukuan yang menurut saya akan terjadi di tahun 2019. Ya namanya juga prediksi, nggak semuanya harus terjadi kan ya. Bahkan nggak menutup kemungkinan nggak akan terjadi semuanya. Sebab semua terjadi karena kehendak Tuhan.

Tapi apa yang saya tulis sudah saya rangkum dari femonena perbukuan dan literasi beberapa tahun kebelakang. Kalau kamu setuju silahkan acungkan jari di kolom komentar ya.

Kalau ada yang nggak setuju dan punya prediksi sendiri silahkan tuliskan juga di kolom komentar. Jangan lupa di share ya tulisannya. 

Selamat membaca. Jangan lupa bahagia
________________________________________________________

1 comment: