Judul : Tawanan Benteng Lapis Tujuh
Judul Asli : Sijjin Qal’ah al-Aswar as-Sab’ah
Penulis : Husayn Fattahi
Penerjemah : Muhammad Zaenal Arifin
Penyunting : Damhuri Muhammad
Desain Sampul : IGgrafix
Pewajah Isi : Nur Aly
Proofreader : Juman Roarif
Tebal : 294 halaman
ISBN : 978-979-024-266-1
Penerbit : Penerbit Zaman
Blurb
Bermusim-musim ia hidup dalam kejaran Mahmud Ghaznawi, penguasa Turki yang menjanjikan hadiah 5.000 keping emas bagi yang berhasil membekuk as-syeikh ar-rais itu hidup-hidup. Dari istana Ibu al-Ma’mun (Gurganj) ia menantang terjangan badai di sahara Khawaran. Abu Sahl, sejawat karibnya tewas, hingga ia menggelandang seorang diri.
Alur Cerita
Dialah Abu Ali (nama kecil Ibnu Sina atau Avicenna), as-syeikh ar-rais, seorang dokter dari tanah Persia yang cemerlang. Nggak sekedar terkenal dalam literatur islam. Abu Ali juga dikenal sebagai ilmuwan luar biasa di dunia barat.
Siapa yang menyangka jika Ibnu Sina kecil telah membuat ayahnya kebingungan. Sebab kecerdasan yang dimilikinya membuat dirinya mampu menguasai suatu bidang ilmu dalam waktu singkat. Hal itu membuat guru-gurunya mengeluh dan melapor kepada ayah Ibnu Sina bahwa mereka sudah nggak punya ilmu lagi untuk dibagikan.
Nah, dari sinilah pencarían ilmu Ibnu Sina dimulai. Hingga suatu ketika, saat ibunya sakit dan tidak ada dokter satu pun yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Ibnu Sina yang masih remaja mencoba mengobati ibunya sendiri. Sudah bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Si ibu sembuh dan tersebarlah kemampuannya sebagai seorang penyembuh ke pelosok kota.
Ketenaran yang dimilikinya akhirnya terdengar hingga dinding-dinding istana. Ibnu Sina dipanggil ke kerajaan untuk menyembuhkan penyakit raja yang tidak kunjung sembuh. Padahal seluruh dokter kerajaan sudah berusaha menyembuhkannya. Singkat cerita, Sang raja sembuh dan menghadiahi Ibnu Sina dengan hak penggunaan perpustakaan kerajaan.
Sayangnya kebahagiaan itu tidak bertahan lama, sebab orang-orang yang dengki dan iri kepada Ibnu Sina membuat dia harus menjadi pelarian. Ditemani oleh sahabatnya, Abu Sahl, akhirnya Ibnu Sina kabur dari kerjaan untuk menyelamatkan diri.
Review
Membaca novel biografi ini seperti membaca teks narasi yang sering ada di buku pelajaran Bahasa Indonesia waktu SMA dulu. Ringan dan penuh dengan informasi. Saya pun nggak berharap akan ada banyak kata-kata indah didalamnya saat pertama kali membelinya. Dan, ternyata benar. Novel ini jauh dari kata-kata nyastra yang terkadang justru membuat kepala pecah saat membacanya.
Mungkin karena terjemahan dari Bahasa Arab kali ya. Jadi kata-katanya cenderung sederhana gitu. Kalaupun ada kata-kata manis itupun kebanyakan masuk dalam dialog tokoh-tokoh dalam novel.
Beberapa adegan digambarkan secara klise. Bahkan beberapa scene terkesan jika si penulis agak mengalami intelectual culdesac saat menulisnya. Tapi karena ceritanya yang padat dan sarat informasi menarik membuat saya terus membalik halaman demi halaman sampai habis.
Memang jika dibaca secara teliti, cerita pada tiap bab terkesan melompat-lompat. Mungkin karena si penulis, Husayn Fattahi, ingin mengambil titik kronologis terpenting yang terjadi dalam kehidupan Ibnu Sina. Itu agak menganggu saya sebenarnya.
Untungnya, dalam setiap perjalanan kehidupan Ibnu Sina selalu muncul malaikat-malaikat titisan Tuhan yang memang sengaja ada untuk menemani kehidupan Ibnu Sina yang penuh dengan kenestapaan. Sebut saja Abu Sahl dan Abu Ubayd.
Hm… Siapa itu Abu Sahl? Siapa pula Abu Ubayd?
Kayaknya perlu baca sendiri deh biar tahu siapa mereka berdua itu. Dan apa peran keduanya dalam kehidupan Ibnu Sina.
Yeah, secara keseluruhan sih novel ini ringan. Menarik karena memang ini novel biografi sehingga setiap halaman menyimpan informasi yang sangat menarik. Meskipun nyesek juga pas baca ending ceritanya kayak begitu.
Rating
Saya kasih 3,7 dari 5 bintang yang saya miliki.


0 comments:
Post a Comment