Saya nggak tahu ya kenapa
bisa hobi baca. Tapi menurut cerita
banyak orang, saya emang bisa baca bahkan sebelum sekolah. Itu artinya saya
bisa baca sekitar umur 4 tahun. Karena saya sekolah, lebih tepatnya masuk TK
itu pas usia 5 tahun.
Bukannya
ingin sombong atau pamer, saya rasa di luar sana banyak juga kok anak yang bisa
baca sebelum bersekolah. Bahkan ada yang umur dua tahun sudah bisa baca. Jadi,
nggak ada yang perlu disombongkan bukan?
Maksud saya begini, saya ini
heran dengan diri sendiri, kok bisa saya begitu demen dan hobi sama kegiatan
baca. Kenapa saya bilang hobi? Sebab saya nggak tahan kalau lihat buku di toko
buku. Pinginnya beli gitu. Terus nanti kalau udah kesampaian beli buku, bisa
‘kawin’ sama itu buku berhari-hari. Setelah habis, pingin beli lagi.
Cuma saya nggak seekstrim
seorang bibliomania yang suka koleksi buku berlebihan gitu. Ada keperluan lain yang harus dipenuhi kan selain
hanya membeli buku?
Sebenarnya nggak hanya buku
saja sih. Pokoknya kalau ada bacaan apa aja langsung pinginnya disikat. Dibaca
waktu itu juga sampe habis.
Makanya, dirumah saya itu
ada banyak sekali buku. Mulai dari buku pelajaran, komik, novel, kumpulan puisi,
biografi hingga majalah lama pun ada. Dulu saat saya masih rajin menghitung, jumlahnya
ada ribuan. Tapi kayaknya sekarang udah banyak berkurang karena banyak yang
dipinjem orang tapi nggak balik-balik. Ya sudahlah ya, ikhlasin aja,
itung-itung sedekah. Hahaha…
Apalagi jaman sekarang sudah
canggih. Semua bacaan sudah bisa diakses melalui smartphone. Jadi sekarang saya
jarang beli buku fisik, kecuali kalau ada buku yang sudah saya tunggu-tunggu
atau kalau ada gratisan dari penulis-penulis baru yang sering ngadain giveaway.
Kelihatan banget ya kalau pemburu gratisan.
Hal lain yang membuat saya
mengidentifikasi (ciye bahasanya ketinggian) diri sebagai penghobi baca adalah
ucapan teman-teman saya.
“Elu kagak baca sehari gitu
mati ya?”
Ada juga yang bilang begini,
“Aku juga suka baca, tapi heran kalau lihat elu. Kayak orang gila kalau sudah
lihat buku.”
Emang sebegitunya banget ya?
Tapi saya nggak menyangkal sih. Teman-teman saya
sendiri banyak yang suka baca. Mereka juga punya koleksi buku-buku dirumahnya.
Cuma mereka biasa aja gitu terhadap kegiatan baca.
Yah apa mau dikata. Seperti
inilah kondisinya. Jadi saya nggak
bisa melawan kan?
Mungkin
kegilaan saya terhadap membaca tumbuh dari rumah saya. Seluruh anggota keluarga
saya demen banget sama yang namanya membaca. Kakak-kakak saya demen. Ibu saya
yang matanya udah remang-remang begitu, masih suka baca sampai sekarang. Ya, meskipun
kedemenan kami soal buku yang dibaca itu berbeda-beda. Tapi atmosfer membaca
selalu ada dalam rumah saya.
Namun, meskipun begitu, saya
kira ada hal lain yang perlu dikoreksi kembali dari kegiatan “MEMBACA” yang
sering saya lakukan. Mungkin juga kamu. Jadi, sila lanjut ya.
TUHAN
MEMINTA KITA UNTUK MEMBACA. TAPI ADA YANG LEBIH PENTING LHO DARI SEKEDAR MEMBUNYIKAN
HURUF-HURUF.
Ketika saya masuk MI
(setingkat SD), saya pernah mendapat cerita tentang wahyu pertama yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Wahyu pertama inilah yang mungkin juga
membuat saya suka sekali dengan membaca. Sebagian
besar orang barangkali sudah tahu apa yang ingin saya katakan. Klise? Ya benar.
Tapi memang seperti itulah yang saya alami.
Toh
nggak semua orang tahu, jadi saya akan tetap menuliskannya. So, I’m sorry. Maaf juga untuk
teman-teman yang non-muslim. Kalau kurang berkenan silahkan dilewati saja.
Wahyu
pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al-Alaq ayat 1-5.
Hampir semua orang Islam tahulah. Ayat itu diawali dengan kata Iqra yang
artinya bacalah. Dulu ketika masih MI saya nggak ngerti apa maksud dari kata
itu. Cuma
pas saya SMA, barulah saya mulai memahami.
Mengapa Tuhan menyuruh kita
untuk membaca?
Saya
pikir setiap orang punya persepsi masing-masing dalam menafsirkan ayat ini.
Terutama kalimat Iqra yang menjadi pembuka surat. Menurut saya membaca memang
sesuatu hal yang penting sehingga Tuhan merasa perlu memerintahkannya kepada
umat manusia.
Namun,
menurut saya membaca bukanlah sekedar membunyikan huruf-huruf. Kalau sekedar
membunyikan huruf-huruf, anak kecil yang baru bisa mengeja juga bisa kan. Ada hal
yang lebih penting, yaitu KESADARAN.
Kesadaran menjadi semacan
pembuka gerbang. Nah gerbang yang dibuka
adalah gerbang hati. Jadi kesadaran adalah kunci untuk membuka hati. Ketika
hati sudah dibuka maka ilmu, apapun itu akan bisa masuk kedalamnya melalui
kegiatan yang namanya membunyikan huruf-huruf tadi.
“Lho
bukannya membunyikan huruf juga disebut membaca?”
Ya
kalau ada yang bilang begitu saya nggak akan mendebatnya. Seperti yang saya
tulis sebelumnya bahwa setiap orang memiliki persepsi masing-masing soal ini. So, you can say anything.
Nah
begini. Mengapa saya bilang kalau kesadaran lebih penting dari sekedar
membunyikan huruf-huruf?
Sebelum
seseorang pandai membunyikan huruf, pasti ia harus melihat dan mendengar dulu.
Mengenali huruf-huruf dan mendengarkan bunyi. Melihat dan mendengar adalah
bentuk kesadaran awal.
Ketika
Kanjeng Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu pertama tadi, beliau belum tahu
tentang huruf. Beliau harus dituntun menirukan (bukan membaca) ayat-ayat suci oleh
Malaikat Jibril. Setelah pulang pun, beliau belum paham apa yang barusan
diucapnya bersama Malaikat Jibril. Beliau baru paham setelah mendapatkan
penjelasan dari salah satu saudara istri beliau. Harus sadar dulu kan, baru apa
yang diucapkan bermakna.
Sama halnya dengan membaca.
Setelah mengenal bunyi dan huruf, kita bisa merangkainya menjadi kata, kalimat,
frase dan paragraf. Tapi apakah kita langsung memahami apa yang kita bunyikan.
Belum kan? Kita hanya membunyikan saja tulisan yang ada. Nah, baru setelah agak
besar kita mulai paham apa yang kita baca.
So, menurut saya, membaca
baru bisa disebut membaca ketika kita sudah memahami apa yang kita bunyikan.
Kalau hanya sekedar membunyikan huruf tanpa memahami isinya, belum bisa
dikatakan membaca. Maka pemahaman tentang sesuatu yang dibunyikan ini butuh kunci
yang namanya KESADARAN tadi.
Itulah kenapa KESADARAN
terhadap tulisan, jauh lebih penting daripada membunyikan huruf-huruf (yang
selama ini dipahami sebagai membaca) itu sendiri. Karena tanpa kesadaran,
MEMBACA hanya akan jadi kegiatan huruf demi huruf semata. Kita nggak akan paham
apa yang sudah kita bunyikan.
MEMBACA
ITU LUAS. SELUAS SAMUDRA DAN LANGIT YANG MENGHAMPAR.
Banyak
orang yang bilang membaca itu harus kitab suci atau buku. Saya dulu juga
begitu. Sebenarnya nggak salah juga sih. Sebab ketika bersekolah, kegiatan
literasi selalu berhenti pada kegiatan membaca naskah atau teks saja.
Kita
jarang sekali diajarkan untuk membaca dalam konteks yang lebih luas. Membaca
alam semesta, karakter teman atau gejala alam. Padahal kegiatan membaca dalam
konteks yang lebih luas bisa menjadi awal dari wawasan yang lebih luas lagi.
Coba tengok nenek moyang
kita jaman dulu. Mereka membaca langit di malam hari. Akhirnya bisa menemukan
pola bahwa rasi bintang tertentu menjadi penunjuk arah. Ketika jaman sudah
sedikit modern semua hal itu dicatat dan jadi sumber ilmu pengetahuan di masa
kini.
Atau nenek moyang yang
menjadi petani, mereka membaca musim bertahun-tahun lamanya hingga kemudian
nemuin pola tanam di sawah sesuai musimnya. Dijaman modern siklus musim itu
dinamakan Pranata Mangsa.
Nah, jika dalam sebuah novel
atau cerita biasanya ada makna tersirat yang nggak tertulis di buku. Itu kan
butuh kesadaran pembacanya untuk menangkap maksudnya. Lha kalau sekdedar
membunyikan huruf mana bisa ditangkap maksudnya. Iya kan?
Jadi apapun di alam semesta
ini bisa kita baca dalam artian kita sadari maksudnya dan kita pahami apa yang
tersembunyi di baliknya.
Saya nggak bermaksud buat
ngeguruin siapapun. Toh tulisan ini juga saya pakai sebagai catatan pribadi
atas apa yang ada di pikiran saya. Jika
memang kurang berkenan maafkan ya.
Selamat
menikmati hidup. Selamat membaca alam semesta.

0 comments:
Post a Comment