Siapa sih yang nggak kenal Pram. Pramoedya Ananta Toer. Bagi pecinta buku sejati pasti sudah tahu lah yah kiprah Si Mbah yang satu itu. Kalau belum tahu berarti kudu baca buku-bukunya biar jadi pecinta buku yang sesungguhnya. #hehehe
Saya sendiri kenal (maksudnya baca) buku-buku beliau pertama kali itu pas SMP. Kalau nggak salah yah tahun 2006. Waktu itu, guru Bahasa Indonesia kasih tugas bikin sinopsis. Nah, novel yang dipilih haruslah novel karya-karya penulis lama.
Saya muter-muter di perpustakaan sekolah buat nyari. Hasilnya: NGGAK DAPAT BUKU SATUPUN. Soalnya udah keduluan temen-temen yang lain. Akhirnya saya cari di perpustakaan daerah deket Pasar Legi. Dapatlah saya buku yang judulnya Bumi Manusia. Itupun setelah dibantu mbak-mbak pustakawan nyari. Nemunya di pojokan rak. Kondisinya sudah memprihatinkan banget dah.
Setelah itu baru buku-buku Mbah Pram yang lain saya baca. Tapi jujur saja, semudah-mudahnya saya nemu buku sastra lama, buku Mbah Pram inilah yang menurut saya susah nyarinya. Aneh juga sih sebenarnya, soalnya buku-bukunya terkenal lho. Tapi jarang yang punya.
Kalau di toko buku sih banyak. Tapi sepengelihatan saya, jarang banget yang nyentuh atau baca bukunya Si Mbah. Pernah juga saya beli di Toko Buku Togamas Diponegoro (Surabaya), eh mas kasirnya malah bilang begini, “Kok masih suka buku kuno sih Mas, buku terbitan baru kan banyak.”
Saya Cuma nyengir aja. Masak iya saya kudu nyeramahin dia.
Padahal (secara garis besar) buku-bukunya Mbah Pram itu bagus lho. Berisi dan nggak kaleng-kaleng. Kosa katanya pun beragam dan kaya. Ya, kalau seperti itu terus bisa-bisa bukunya Mbah bisa langka dan punah. Wong waktu saya nyari yang judulnya Jalan Raya Pos saja dulu muter-muter satu Surabaya nggak nemu. Nemu-nemu di Pasar Blauran, tapi sekarang ilang. Ada yang minjem nggak dibalikin. Hiks hiks hiks.
Makanya, buat kamu yang memang ngaku hobi baca dan pecinta buku, sebelum karya-karya Mbah Pramoedya Ananta Toer langkah dan punah, perlu deh kamu baca. Kalau belum tahu atau lupa judul-judulnya, mungkin referensi karya Pramoedya Ananta Toer berikut ini bisa masuk list baca kamu sebelum benar-benar langka dan punah.
Reading List Karya Pramoedya Ananta Toer Sebelum Langka dan Punah
1. Bumi Manusia
Bumi manusia ini novel pertama dari tetralogi Buru. Bersama tetralogi Buru yang lain, Bumi Manusia sudah diterjemahkan kedalam lebih dari 40 bahasa. Ya ampun jadi ngiri banget deh. Kapan yah saya bisa novel kayak begitu. Selama ini ngirim naskah ke penerbit belum ada yang tembus. Hiks….
FYI, waktu baca bagian-bagian akhir novel ini saya sempat nangis. Soalnya nggak tega liat si Minke (tokoh utama) yang istrinya dibawa oleh penjajah ke Belanda. Ya ampun, coba kalau si Minke itu saya, pasti udah kubawa kabur keluar Jawa itu istri. Biar nggak dibawa balik ke Belanda.
Terus juga sosok Nyai Ontosoroh yang tegar. Perempuan Jawa yang mencoba melawan budaya patriarki di Jawa. Oh ya, bagi yang sering wara-wiri di Surabaya. Dalam novel ini juga ada beberapa gambaran tempat-tempat di Surabaya tempo dulu. Seperti daerah Wonokromo dan Blauran. Gimana? Pingin baca.
2. Jejak Langkah
Jejak langkah ini novel ketiga dari tetralogi Buru. Tokoh utamanya sih masih Minke. Cuman secara garis besar, dalam novel ini bercerita tentang perjuangan Minke melawan penjajah sih. Tapi yang bikin unik, bukannya melawan dengan kekerasan, si Minke malah menggunakan jurnalistik untuk melawan penjajah.
Dalam buku ini diceritakan kalau Minke membuat banyak bacaan untuk pribumi. Ada satu quote yang bikin saya semangat setelah baca buku ini, “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan”. Sebuah quote yang menurut saya masih masih sangat relevan dilakukan di jaman milenial kayak sekarang. Betul nggak sih?
3. Gadis Pantai
Waktu baca gadis pantai ini saya juga sempat mewek. Maklum saya ini gampang banget nangis kalau ada kisah yang mengharu biru. Terlebih saat Gadis Pantai diusir dari Bendoro. Menurut beberapa sumber yang saya baca, katanya sih cerita gadis pantai ini gambaran tentang kisah nenek Mbah Pram sendiri.
Kalau memang begitu, kamu patut baca lho. Soalnya perjuangan melawan budaya patriarki dan melawan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan patut diapresiasi. Salut dah sama penulis yang satu ini.
4. Arok Dedes
Dari judulnya saja udah kelihatan kalau novel ini bercerita tentang perlawanan Ken Arok melawan Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Isi novelnya full tentang politik, intrik, siasat, merebut kekuasan bahkan kekejaman manusia untuk menghabisi orang yang nggak terlibat apapun.
Hmmm…. Gimana ya ngomongnya. Okeh begini, jujur saja saya agak kurang sreg dengan novel yang satu ini sih. Tapi meskipun begitu ya saya baca juga. Hehehe….
Soalnya banyak sekali hal yang kurang cocok dengan apa yang saya pahami. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau. Fakta-fakta sejarah yang ada dalam novel ini berbeda dengan apa yang saya pahami. But, I think that is okey. Anggap saja sebagai salah satu kekayaan sejarah yang kita miliki.
Buat kamu pecinta sejarah, bolehlah baca buku ini.
5. Arus Balik
Hampir sama dengan Arok Dedes, novel ini juga berlatar sejarah yang kental. Ceritanya saat Nusantara berada dimasa kejayaannya: Era Kerajaan Majapahit.
Memang sih novelnya (agak) tebal, sekitar 760 halaman. Wong saya aja waktu itu bacanya sebulan baru kelar (kesibukan juga mengganggu). Saya nggak bisa ngomong apa kalau untuk novel yang satu ini. Mending kamu baca aja. Sebelum benar-benar langkah dan punah.
6. Larasati
Siapa yang ingin tahu gambaran tentang perjuangan bersenjata yang terjadi antara tahun 1945 – 1950? Kalau ingin tahu, buku ini bisa beri tahu kamu gimana kondisinya saat itu. Untuk buku yang satu ini saya nggak baca sampai habis sih. Soalnya baca buku ini nebeng di Pasar Blauran (baca gratisan sambil berdiri tapi nggak beli. Hahaha).
Tapi meskipun begitu kesan yang didapat benar-benar real kok. Pingin juga kapan-kapan cari bukunya. Makanya, nggak heran kalau buku ini jadi salah satu buku Si Mbah yang banyak diulas di Goodreads.
Yang bikin saya seneng sama ini novel adalah tokoh utamanya. Kalau biasanya di novel atau cerita peperangan tokoh utamanya adalah laki-laki, nah di novel ini tokoh utamanya perempuan lho. Mau tahu gimana kalau perempuan berjuang? Sok atuh mangga keliling toko buku buat cari ini buku.
7. Jalan Raya Pos
Pernah liat-liat novel Jalan Raya Pos di toko online. Harganya nggak nyampe Rp 30.000,-. Cuma kayaknya itu bajakan deh, soalnya di toko buku masih di atas itu. Tapi nggak tahu juga sih, barangkali itu buku lama yang udah nggak dibaca sama pemiliknya lalu dijual di toko online. Who know?
Eh, kok jadi ngelantur ya?
Okey, mungkin kamu pernah dengar atau baca tentang Jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) yang membentang dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur). Nah, di buku yang satu ini Mbah Pram menggambarkan bagaimana jalan itu dibangun serta cerita-cerita yang ada pada setiap kota yang dilalu jalan tersebut.
Sama seperti novel Arok Dedes, saya agak kurang sreg dengan novel ini. Mungkin karena pemaparannya yang tidak fokus dan penggambaran fakta sejarah yang kurang relevan dengan tahun dimana kejadian itu berlangsung kali ya.
Banyak ya? Banyak banget lah.
Kayaknya sampai segini aja kali ya, soalnya ini udah seribu tiga ratus kata. Nanti kalau kebanyakan juga bosen. Nah, dibawah ini daftar novel Pramoedya Ananta Toer yang lain. Mungkin bisa jadi pilihan bacaan kamu diakhir pekan.
- Rumah Kaca
- Anak Semua Bangsa
- Bukan Pasar Malam
- Cerita Calon Arang
- Cerita Dari Blora
- Perburuan
- Keluarga Gerilya
- Kranji-Bekasi Jatuh
- Gulat di Jakarta
- Korupsi
- Midah – Si Manis Bergigi Emas
- Hoakiau di Indonesia
- Panggil Aku Kartini Saja
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu
- Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer
- Mangir
Ya urusan mau membaca atau nggak sih terserah individu masing-masing. Cuma menurut saya haruslah baca satu dua karya beliau. Isinya juga bagus. Memang sih nuansa peperangan dan pasca perang banyak berseliweran di novel-novel Si Mbah. Cuma nilai dan amanat yang didapat dari novel juga pasti bikin kamu mikir.
Kalau saya sendiri, meski belum baca semua, seenggaknya lebih dari separoh karya Mbah Pram udah saya baca. Ya, mungkin lain kali ya bisa direview. Tapi masak iya kamu mau baca nunggu review dari saya. Keburu langkah dan punah kale.
Ok, silahkan memilih dan membaca. Stay Reading Everywhere And Anytime.

0 comments:
Post a Comment