Judul                           : I Am Number Four
Penulis                         : Pittacus Lore
Penerjemah                  : Nur Aini
Penyunting                  : Esti A. Budihabsari
Desain Sampul            : Bluegarden
Proofreader                 : Ocllivia Dwiyanti P.
Tebal                           : 493 halaman
ISBN                           : 978-979-433-606-9
Penerbit                       : Penerbit Mizan Fantasi

Blurb

Kami hidup tersamar di tengah-tentah kalian, di kota kalian, menjadi tetangga kalian. Menunggu hari saat kami saling bertemu untuk bertempur terakhir kalinya. Bila kami menang, kalian akan terselamatkan. Bila kami kalah, semu akan musnah,

Sepuluh tahun lalu, sembilan anak dilarikan ke Bumi dari Planet Lorien yang hancur karena perang. Anak-anak tersebut disembunyikan di berbagai tempat di Bumi dan dimantrai sehingga kaum Mogadorian yang kejam tak bisa membunuh mereka keculai secara berurutan. Kini, satu per satu anak itu terbunuh, sesuai urutan nomornya: Satu, Dua, Tiga. Dan, John Smith adalah Nomor Empat.

Itulah sebabnya John selalu dalam pelarian. Berpindah-pindah, memakai nama dan identitas baru setiap enam bulan. Hingga pelariannya itu membawanya ke Paradise, Ohio, tempat dia menemukan Sarah – menemukan cintanya. Dan John tak ingin lari lagi. Dia bertekad untuk melawan. Dia pun berjuang mengembangkan kekuatannya, Pusaka Lorien, untuk melawan kaum Mogadorian yang terus memburu.

Berhasilkah John mengalahkan kaum Mogadorian? Ataukah John harus meninggalkan Sarah dan hidup diburu selamanya?

Alur Cerita

John Smith, Si Nomer Empat, harus kembali pindah tempat. Pasalnya, Nomer Tiga telah terbunuh oleh Kaum Mogadorian. John mengetahui jika Nomer Tiga telah tebunuh saat mengadakan pesta di sebuah kapal. Tiba-tiba di kakinya terbakar dan sebuah goresan terpatri di pergelangan kakinya.

Kali ini tempat persembunyian John agar terhindar dari kejaran kaum Mogadorian adalah sebuah kota kecil di Ohio bernama Paradise. Di Paradise inilah John kemudian menemukan Sam (seorang teman yang percaya jika Alien memang ada) dan Sarah (gadis terkenal yang kemudian dicintainya).

Kisah John semakin tegang saat pusaka pertamanya Lumen (dia bisa memunculkan cahaya dari tubuhnya dan tahan terhadap api) muncul di sekolah. Hal tersebut membuat geger sekolah dan membuat dia mendapatkan cap pecundang dari gank baseball yang dikepalai oleh Mark (Kebetulan Mark ini mantan Sarah yang masih ngejar-ngejar gitu).

Sebagai kisah sci fic, kisah ini memang penuh konflik yang bertumpuk-tumpuk. Mulai dari masalah Sam yang kemudian turut masuk dan memengaruh alur cerita, masalah dengan Mark karena John dekat dengan Sarah dan pertarungan dengan para Mogadorian.

Puncak konflik terjadi secara epic melalui pertarungan antara John melawan Mogadorian dibantu oleh Sam (eh iya, di detik-detik akhir Si Nomer Enam ternyata muncul loh). Yang perlu diikuti pula adalah perjalanan Henri mengiringi John.

Siapa Henri? Ah mending baca sendiri deh biar tahu siapa itu Henri.

Review

Menurut saya, untuk sebuah novel fantasi, Pittacus Lore sudah berhasil menyajikan kisah penuh aksi dan drama. Tahapan alur yang dibuat juga sangat sistematis mulai dari perkenalan tokoh, tahap pertentangan, munculnya konflik, puncak konflik sampai penyelesaian. Semuanya urut dan rapi banget.

Kayak baju diseterika.

Dan, justru karena urutan yang sangat rapi itu membuat saya agak aneh jadinya. Bukannya saya nggak menaati aturan pengaluran sebuah cerita. Tetapi justru bagi saya, alur yang sangat rapi, bisa membunuh ceritanya sendiri. Kesannya si penulis nulisnya sambil mikir gitu. Jadi yang baca juga nggak bisa lepas.

Untungnya, yang bikin saya demen, Si Tetua Planet Lorien ini memberi jarak yang sedikit sekali antara puncak konflik dan penyelesaiannya. Maksudnya begini, setelah konflik muncul, konflik tersebut segera terselesaikan. Dalam novel ini berarti, setelah terjadi pertempuran, penyelesaian langsung muncul setelahnya.

Yah, meskipun endingnya agak gimana gitu menurut saya. Terkesan dipaksain. Masa abis bertarung tiba-tiba gitu.

Terus untuk gaya bahasanya menurut saya kaku juga sebenarnya. Banyak sekali novel fantasi yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris yang sudah saya baca, dan, menurut saya novel ini masuk dalam kategori yang bertele-tele menurut saya.

Bukannya berniat sarkastik, hanya saja saya mencoba menuliskan sesuai dengan apa yang saya baca. Jadi maafkan ya.

Untuk yang lain menurut saya oke, penokohannya juga kuat, settingnya apalagi, saya sukak. Tragedi-tragedi dimasa lalu ditulis dengan detail dan saling terkait dengan apa yang terjadi saat ini, saat dimana cerita yang dimainkan tokohnya berlangsung. Pesannya juga sederhana, ada pesan-pesan kecil yang terselip di beberapa bab.

Good job deh buat Mbah Pittacus Lore.

Rating

Saya kasih 3.9 dari 5 bintang yang saya miliki.


Nggak enak memang baca buku kalau nggak mencatat quote-quote ciamik yang ada di dalam buku. Ya meskipun jujur saja ya, saya ini bukan jenis pembaca yang suka mencatat quote dari buku secara detil. 

#hehehe

Cuma biasanya kalau ada quote yang membetot perhatian, saya pasti akan langsung mencatatnya. Minimal saya ingat atau nggak gitu memberi tanda pada bukunya. Makanya di buku yang udah pernah saya baca pasti ada bekas coretan atau stabilo.

Nah, berhubung minggu lalu saya sudah tulis tentang review buku Tawanan Benteng Lapis Tujuh, kali ini saya akan coba berbagi quote-quote yang ada di dalam buku tersebut. Sebenarnya dalam buku itu ada banyak sekali sih quote-quote yang bagus. Cuma dalam postingan kali ini saya hanya akan membagi sembilan quote saja.

Bukannya pelit sih ya, cuma kalau saya tulis semua nanti kamu malah nggak penasaran lagi kan jadinya. Oh ya, quote yang saya bagi ini mungkin kurang berkesan buat kamu. Tapi bagi saya cukup mengena, soalnya beberapa memang pernah saya alami sendiri.

Ya udah deh ya, nggak usah banyak a b c lagi, ini dia quote dari buku Tawanan Benteng Lapis Tujuh. Cekidot…

1. Kalau baca quote satu ini bikin ngeri-ngeri sedap kalau berhubungan dengan pemimpin. Hihihi….

2. Manusia memang makhluk ciptaan Tuhan yang diberi akal kan, jadi bisalah kita menghadapi setiap masalah. Nggak usah galau.

3. Makanya kita kudu selalu inget dan sadar ye kan. Kalau nggak sadar ya bisa melakukan hal paling bodoh dalam hidup kita.

4. Bukannya mengasihani diri sih. Tapi jujur quote yang satu ini bener banget. Gimana susahnya jadi anak kos bikin saya mengiyakan kata mutiara yang satu ini.

5. Yang namanya pikiran emang bisa bikin penyakit. Makannya kalau punya beban hidup tulis saja. Jadi guest post di blog ini juga boleh. Hehehe…

6. Hanya tuhan sih yang berkuasa di dunia ini. Tapi kebanyakan manusia memang mencari kekuasaan itu. Bener nggak sih?

7. Saya agak nggak paham dengan ini, tapi karena enak dibaca jadi ya saya comot aja. Mungkin kamu tahu maksudnya?

8. Ini betul banget. Dari pada ribet sama orang yang udah nyakitin kita mending kita move on donk.

9. Namanya hidup emang selalu ada masalah. Tapi tenang aja, masalah bakal pergi sendiri kok. Tinggal kitanya aja yang berjuang.

Gimana quote-quotenya?

Menarik nggak?

Kamu nggak perlu jawab ‘iya’ juga kok. Selera orang beda-beda. Tapi kalau ada salah satu quote yang menarik. Kamu bisa share ke teman atau tulis di kolom komentar. Barangkali quote favorit kita sama.

Sampai sini dulu ya, next time saya akan bagi quote dari buku yang saya baca. Kira-kira kamu punya ide nggak tentang judul buku apa yang layak saya baca dibulan Maret?

Judul : Tawanan Benteng Lapis Tujuh
Judul Asli : Sijjin Qal’ah al-Aswar as-Sab’ah
Penulis : Husayn Fattahi
Penerjemah : Muhammad Zaenal Arifin
Penyunting : Damhuri Muhammad
Desain Sampul : IGgrafix
Pewajah Isi : Nur Aly
Proofreader : Juman Roarif
Tebal : 294 halaman
ISBN : 978-979-024-266-1
Penerbit         : Penerbit Zaman

Blurb

Bermusim-musim ia hidup dalam kejaran Mahmud Ghaznawi, penguasa Turki yang menjanjikan hadiah 5.000 keping emas bagi yang berhasil membekuk as-syeikh ar-rais itu hidup-hidup. Dari istana Ibu al-Ma’mun (Gurganj) ia menantang terjangan badai di sahara Khawaran. Abu Sahl, sejawat karibnya tewas, hingga ia menggelandang seorang diri.

Alur Cerita

Dialah Abu Ali (nama kecil Ibnu Sina atau Avicenna), as-syeikh ar-rais, seorang dokter dari tanah Persia yang cemerlang. Nggak sekedar terkenal dalam literatur islam. Abu Ali juga dikenal sebagai ilmuwan luar biasa di dunia barat.

Siapa yang menyangka jika Ibnu Sina kecil telah membuat ayahnya kebingungan. Sebab kecerdasan yang dimilikinya membuat dirinya mampu menguasai suatu bidang ilmu dalam waktu singkat. Hal itu membuat guru-gurunya mengeluh dan melapor kepada ayah Ibnu Sina bahwa mereka sudah nggak punya ilmu lagi untuk dibagikan.

Nah, dari sinilah pencarían ilmu Ibnu Sina dimulai. Hingga suatu ketika, saat ibunya sakit dan tidak ada dokter satu pun yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Ibnu Sina yang masih remaja mencoba mengobati ibunya sendiri. Sudah bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Si ibu sembuh dan tersebarlah kemampuannya sebagai seorang penyembuh ke pelosok kota.

Ketenaran yang dimilikinya akhirnya terdengar hingga dinding-dinding istana. Ibnu Sina dipanggil ke kerajaan untuk menyembuhkan penyakit raja yang tidak kunjung sembuh. Padahal seluruh dokter kerajaan sudah berusaha menyembuhkannya. Singkat cerita, Sang raja sembuh dan menghadiahi Ibnu Sina dengan hak penggunaan perpustakaan kerajaan.

Sayangnya kebahagiaan itu tidak bertahan lama, sebab orang-orang yang dengki dan iri kepada Ibnu Sina membuat dia harus menjadi pelarian. Ditemani oleh sahabatnya, Abu Sahl, akhirnya Ibnu Sina kabur dari kerjaan untuk menyelamatkan diri.

Review

Membaca novel biografi ini seperti membaca teks narasi yang sering ada di buku pelajaran Bahasa Indonesia waktu SMA dulu. Ringan dan penuh dengan informasi. Saya pun nggak berharap akan ada banyak kata-kata indah didalamnya saat pertama kali membelinya. Dan, ternyata benar. Novel ini jauh dari kata-kata nyastra yang terkadang justru membuat kepala pecah saat membacanya.

Mungkin karena terjemahan dari Bahasa Arab kali ya. Jadi kata-katanya cenderung sederhana gitu. Kalaupun ada kata-kata manis itupun kebanyakan masuk dalam dialog tokoh-tokoh dalam novel.

Beberapa adegan digambarkan secara klise. Bahkan beberapa scene terkesan jika si penulis agak mengalami intelectual culdesac saat menulisnya. Tapi karena ceritanya yang padat dan sarat informasi menarik membuat saya terus membalik halaman demi halaman sampai habis.

Memang jika dibaca secara teliti, cerita pada tiap bab terkesan melompat-lompat. Mungkin karena si penulis, Husayn Fattahi, ingin mengambil titik kronologis terpenting yang terjadi dalam kehidupan Ibnu Sina. Itu agak menganggu saya sebenarnya.

Untungnya, dalam setiap perjalanan kehidupan Ibnu Sina selalu muncul malaikat-malaikat titisan Tuhan yang memang sengaja ada untuk menemani kehidupan Ibnu Sina yang penuh dengan kenestapaan. Sebut saja Abu Sahl dan Abu Ubayd. 

Hm… Siapa itu Abu Sahl? Siapa pula Abu Ubayd?

Kayaknya perlu baca sendiri deh biar tahu siapa mereka berdua itu. Dan apa peran keduanya dalam kehidupan Ibnu Sina.

Yeah, secara keseluruhan sih novel ini ringan. Menarik karena memang ini novel biografi sehingga setiap halaman menyimpan informasi yang sangat menarik. Meskipun nyesek juga pas baca ending ceritanya kayak begitu.

Rating

Saya kasih 3,7 dari 5 bintang yang saya miliki.



Siapa sih yang nggak kenal Pram. Pramoedya Ananta Toer. Bagi pecinta buku sejati pasti sudah tahu lah yah kiprah Si Mbah yang satu itu. Kalau belum tahu berarti kudu baca buku-bukunya biar jadi pecinta buku yang sesungguhnya. #hehehe

Saya sendiri kenal (maksudnya baca) buku-buku beliau pertama kali itu pas SMP. Kalau nggak salah yah tahun 2006. Waktu itu, guru Bahasa Indonesia kasih tugas bikin sinopsis. Nah, novel yang dipilih haruslah novel karya-karya penulis lama. 

Saya muter-muter di perpustakaan sekolah buat nyari. Hasilnya: NGGAK DAPAT BUKU SATUPUN. Soalnya udah keduluan temen-temen yang lain. Akhirnya saya cari di perpustakaan daerah deket Pasar Legi. Dapatlah saya buku yang judulnya Bumi Manusia. Itupun setelah dibantu mbak-mbak pustakawan nyari. Nemunya di pojokan rak. Kondisinya sudah memprihatinkan banget dah.

Setelah itu baru buku-buku Mbah Pram yang lain saya baca. Tapi jujur saja, semudah-mudahnya saya nemu buku sastra lama, buku Mbah Pram inilah yang menurut saya susah nyarinya. Aneh juga sih sebenarnya, soalnya buku-bukunya terkenal lho. Tapi jarang yang punya. 

Kalau di toko buku sih banyak. Tapi sepengelihatan saya, jarang banget yang nyentuh atau baca bukunya Si Mbah. Pernah juga saya beli di Toko Buku Togamas Diponegoro (Surabaya), eh mas kasirnya malah bilang begini, “Kok masih suka buku kuno sih Mas, buku terbitan baru kan banyak.”
Saya Cuma nyengir aja. Masak iya saya kudu nyeramahin dia. 

Padahal (secara garis besar) buku-bukunya Mbah Pram itu bagus lho. Berisi dan nggak kaleng-kaleng. Kosa katanya pun beragam dan kaya. Ya, kalau seperti itu terus bisa-bisa bukunya Mbah bisa langka dan punah. Wong waktu saya nyari yang judulnya Jalan Raya Pos saja dulu muter-muter satu Surabaya nggak nemu. Nemu-nemu di Pasar Blauran, tapi sekarang ilang. Ada yang minjem nggak dibalikin. Hiks hiks hiks.

Makanya, buat kamu yang memang ngaku hobi baca dan pecinta buku, sebelum karya-karya Mbah Pramoedya Ananta Toer langkah dan punah, perlu deh kamu baca. Kalau belum tahu atau lupa judul-judulnya, mungkin referensi karya Pramoedya Ananta Toer berikut ini bisa masuk list baca kamu sebelum benar-benar langka dan punah.

Reading List Karya Pramoedya Ananta Toer Sebelum Langka dan Punah

1. Bumi Manusia

Bumi manusia ini novel pertama dari tetralogi Buru. Bersama tetralogi Buru yang lain, Bumi Manusia sudah diterjemahkan kedalam lebih dari 40 bahasa. Ya ampun jadi ngiri banget deh. Kapan yah saya bisa novel kayak begitu. Selama ini ngirim naskah ke penerbit belum ada yang tembus. Hiks…. 

FYI, waktu baca bagian-bagian akhir novel ini saya sempat nangis. Soalnya nggak tega liat si Minke (tokoh utama) yang istrinya dibawa oleh penjajah ke Belanda. Ya ampun, coba kalau si Minke itu saya, pasti udah kubawa kabur keluar Jawa itu istri. Biar nggak dibawa balik ke Belanda.

Terus juga sosok Nyai Ontosoroh yang tegar. Perempuan Jawa yang mencoba melawan budaya patriarki di Jawa. Oh ya, bagi yang sering wara-wiri di Surabaya. Dalam novel ini juga ada beberapa gambaran tempat-tempat di Surabaya tempo dulu. Seperti daerah Wonokromo dan Blauran. Gimana? Pingin baca.

2. Jejak Langkah

Jejak langkah ini novel ketiga dari tetralogi Buru. Tokoh utamanya sih masih Minke. Cuman secara garis besar, dalam novel ini bercerita tentang perjuangan Minke melawan penjajah sih. Tapi yang bikin unik, bukannya melawan dengan kekerasan, si Minke malah menggunakan jurnalistik untuk melawan penjajah.

Dalam buku ini diceritakan kalau Minke membuat banyak bacaan untuk pribumi. Ada satu quote yang bikin saya semangat setelah baca buku ini, “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan”. Sebuah quote yang menurut saya masih masih sangat relevan dilakukan di jaman milenial kayak sekarang. Betul nggak sih? 

3. Gadis Pantai

Waktu baca gadis pantai ini saya juga sempat mewek. Maklum saya ini gampang banget nangis kalau ada kisah yang mengharu biru. Terlebih saat Gadis Pantai diusir dari Bendoro. Menurut beberapa sumber yang saya baca, katanya sih cerita gadis pantai ini gambaran tentang kisah nenek Mbah Pram sendiri. 

Kalau memang begitu, kamu patut baca lho. Soalnya perjuangan melawan budaya patriarki dan melawan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan patut diapresiasi. Salut dah sama penulis yang satu ini.

4. Arok Dedes

Dari judulnya saja udah kelihatan kalau novel ini bercerita tentang perlawanan Ken Arok melawan Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Isi novelnya full tentang politik, intrik, siasat, merebut kekuasan bahkan kekejaman manusia untuk menghabisi orang yang nggak terlibat apapun.

Hmmm…. Gimana ya ngomongnya. Okeh begini, jujur saja saya agak kurang sreg dengan novel yang satu ini sih. Tapi meskipun begitu ya saya baca juga. Hehehe….

Soalnya banyak sekali hal yang kurang cocok dengan apa yang saya pahami. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau. Fakta-fakta sejarah yang ada dalam novel ini berbeda dengan apa yang saya pahami. But, I think that is okey. Anggap saja sebagai salah satu kekayaan sejarah yang kita miliki.

Buat kamu pecinta sejarah, bolehlah baca buku ini.

5. Arus Balik

Hampir sama dengan Arok Dedes, novel ini juga berlatar sejarah yang kental. Ceritanya saat Nusantara berada dimasa kejayaannya: Era Kerajaan Majapahit.

Memang sih novelnya (agak) tebal, sekitar 760 halaman. Wong saya aja waktu itu bacanya sebulan baru kelar (kesibukan juga mengganggu). Saya nggak bisa ngomong apa kalau untuk novel yang satu ini. Mending kamu baca aja. Sebelum benar-benar langkah dan punah.

6. Larasati

Siapa yang ingin tahu gambaran tentang perjuangan bersenjata yang terjadi antara tahun 1945 – 1950? Kalau ingin tahu, buku ini bisa beri tahu kamu gimana kondisinya saat itu. Untuk buku yang satu ini saya nggak baca sampai habis sih. Soalnya baca buku ini nebeng di Pasar Blauran (baca gratisan sambil berdiri tapi nggak beli. Hahaha).

Tapi meskipun begitu kesan yang didapat benar-benar real kok. Pingin juga kapan-kapan cari bukunya. Makanya, nggak heran kalau buku ini jadi salah satu buku Si Mbah yang banyak diulas di Goodreads.

Yang bikin saya seneng sama ini novel adalah tokoh utamanya. Kalau biasanya di novel atau cerita peperangan tokoh utamanya adalah laki-laki, nah di novel ini tokoh utamanya perempuan lho. Mau tahu gimana kalau perempuan berjuang? Sok atuh mangga keliling toko buku buat cari ini buku.

7. Jalan Raya Pos

Pernah liat-liat novel Jalan Raya Pos di toko online. Harganya nggak nyampe Rp 30.000,-. Cuma kayaknya itu bajakan deh, soalnya di toko buku masih di atas itu. Tapi nggak tahu juga sih, barangkali itu buku lama yang udah nggak dibaca sama pemiliknya lalu dijual di toko online. Who know?

Eh, kok jadi ngelantur ya? 

Okey, mungkin kamu pernah dengar atau baca tentang Jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) yang membentang dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur). Nah, di buku yang satu ini Mbah Pram menggambarkan bagaimana jalan itu dibangun serta cerita-cerita yang ada pada setiap kota yang dilalu jalan tersebut.

Sama seperti novel Arok Dedes, saya agak kurang sreg dengan novel ini. Mungkin karena pemaparannya yang tidak fokus dan penggambaran fakta sejarah yang kurang relevan dengan tahun dimana kejadian itu berlangsung kali ya.

Banyak ya? Banyak banget lah. 

Kayaknya sampai segini aja kali ya, soalnya ini udah seribu tiga ratus kata. Nanti kalau kebanyakan juga bosen. Nah, dibawah ini daftar novel Pramoedya Ananta Toer yang lain. Mungkin bisa jadi pilihan bacaan kamu diakhir pekan.
  • Rumah Kaca
  • Anak Semua Bangsa
  • Bukan Pasar Malam
  • Cerita Calon Arang
  • Cerita Dari Blora
  • Perburuan
  • Keluarga Gerilya
  • Kranji-Bekasi Jatuh
  • Gulat di Jakarta
  • Korupsi
  • Midah – Si Manis Bergigi Emas
  • Hoakiau di Indonesia
  • Panggil Aku Kartini Saja
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu
  • Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer
  • Mangir

Ya urusan mau membaca atau nggak sih terserah individu masing-masing. Cuma menurut saya haruslah baca satu dua karya beliau. Isinya juga bagus. Memang sih nuansa peperangan dan pasca perang banyak berseliweran di novel-novel  Si Mbah. Cuma nilai dan amanat yang didapat dari novel juga pasti bikin kamu mikir.

Kalau saya sendiri, meski belum baca semua, seenggaknya lebih dari separoh karya Mbah Pram udah saya baca. Ya, mungkin lain kali ya bisa direview. Tapi masak iya kamu mau baca nunggu review dari saya. Keburu langkah dan punah kale.

Ok, silahkan memilih dan membaca. Stay Reading Everywhere And Anytime. 

Tahun baru udah seminggu lalu sih yah. Harusnya tulisan ini diposting pas tahun baru. Cuma berhubung kesibukan saya (ampun… sok sibuk banget) yang buanyak banget. Jadi tulisan ini terpaksa saya posting sekarang.

Tapi nggak papa kan ya??? Moga aja belum basi-basi amat lah.

Nah, sesuai judul artikelnya, saya cuma ingin memberikan paparan ringan aja sih tentang prediksi dunia literasi dan perbukuan di Indonesia selama setahun kedepan. Jadi nggak berat-berat amat kok. 

Semoga aja bahasanya nanti juga nggak berat dan bikin pusing. Soalnya udah bawaan orok kalau bahas hal yang ginian biasanya saya langsung jadi serius. Jadi maafin ya kalau nanti di tengah paparan tiba-tiba bahasanya jadi kaku gitu.

Oke, kita lanjut ya

Siap???

Begini, sebetulnya geliat dunia literasi dan perbukuan di Indonesia tahun depan nggak akan jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena memang tren literasi dan perbukuan di Indonesia cenderung sama dari tahun ke tahun.

Cuma kita nggak bisa menyepelekan kemajuan teknologi informasi yang mau nggak mau bikin semua hal dalam kehidupan ini berubah, termasuk dalam dunia literasi dan perbukuan. 

Daripada lama-lama, cermati aja deh daftarnya berikut ini.

Prediksi Dunia Literasi dan Perbukuan Tahun 2019

1. Meneruskan kejayaan para penulis wattpad

Watties (sebutan bagi para penulis di Wattpad) tidak bisa dianggap remeh. Mereka yang sudah lebih dulu memulai sudah mulai memetik hasilnya sekarang. Sebut saja Luluk HF dengan novel Mariposa-nya. Setelah berjaya di wattpad, sang penulispun akhirnya mencetak bukunya dalam bentuk fisik.

*psft, versi wattpad dan cetaknya sama-sama laris kayak kacang goreng. Hebat banget kan ya?

Apakah Luluk HF saja? No. Ada banyak sekali penulis wattpad yang sudah mencetak bukunya. 

Tren ini beberapa tahun terakhir memang sedang marak. Para penulis baru memulai tulisanya di wattpad sebagai bentuk teaser. Jika responnya positif hingga dibaca belasan atau puluhan juta kali, mereka akan mencetaknya. 

Hanya saja, setahun kedepan tren ini akan semakin meningkat. Karena menurut saya, ini masih menurut saya ya, para penulis wattpad baik yang lama atau yang baru akan semakin berlomba-lomba membuat cerita yang menarik untuk mencapai kesuksesan yang sama seperti penulis wattpad yang udah lebih dulu sukses.

2. Genre buku akan didominasi oleh Romance Remaja

Coba aja berkunjung ke sebuah toko buku di kota kamu. Saya berani jamin, dari deretan buku yang cantik-cantik itu, pasti didominasi oleh romance remaja. Memang sih sebuah toko buku akan memajang buku sesuai genre secara proporsional. Apalagi jika toko buku itu tergabung dengan  penerbit tertentu seperti gramedia. 

Tapi, toko buku juga tempat cari keuntungan. Mereka akan memajang lebih banyak buku yang memiliki banyak peminat. 

Sebenarnya genre romance akan mendominasi, tapi secara khusus romance remaja akan merajai. Ya kita lihat aja setahun kedepan, buku jenis apa yang akan banyak di keluarkan oleh penerbit mayor dan penerbit minor.

3. Buku-buku lama akan ‘bangkit dari kubur’

Awalnya saya nggak memprediksikan hal ini sama sekali. Cuma setelah saya ngobrol dengan murid les saya hal ini muncul dalam otak saja begitu saja. Kegiatan literasi yang digalakkan di sekolah-sekolah saat ini menuntut siswa untuk membaca beberapa karya sastra lama (selain karya sastra baru).

Di sekolah murid les saya itu, setiap siswa di beri beberapa judul karya lama dan bebas memilih karya baru. Karya sastra lama itu diantaranya Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis, Bumi Manusia milik Pramoedya Ananta Toer dan Salah Asuhan bikinan Marah Rusli.

Nah, setahun kedepan saya yakin buku-buku lama dari penulis lain macam itu akan bermunculan kembali. I think this is a good news.

4. Penulis-penulis lama akan banyak yang ‘pensiun’

Bukan pensiun dalam arti yang sebenarnya sih. Mungkin saja mereka hiatus (istirahat sementara), mengehentikan sementara pencetakan bukunya, mengalihkan bukunya dari bentuk fisik ke bentuk digital atau hanya melayani pre order.

Karena memang industri perbukuan Indonesia saat ini agak kurang menentu ya, dan lebih banyak merugikan penulis sih sebenarnya. Mulai dari rendahnya royalti, potongan pajak, sampai persaingan yang semakin ketat. 

Ya, meskipun alasan-alasan itu bukan melulu jadi alasan utama kenapa para penulis lama banyak yang ‘pensiun’. Cuma tanda-tanda bahwa penulis lama mulai ‘pensiun’ sudah muncul. Sebut saja Andrea Hirata yang kabarnya akan berhenti menulis dan nggak tahu kapan akan menulis lagi setelah menerbitkan buku terakhirnya, Sirkus Pohon.

5. (Kemungkinan) Muncul penulis baru yang menggeser penulis lama

‘Pensiun-nya’ penulis lama memberikan angin segar bagi para penulis baru yang lebih memanfaatkan kemajuan teknologi untuk berkarya. Para penulis baru (mungkin kamu diantaranya) akan lebih sering menggunakan platform berbasis internet untuk memamerkan karya, seperti wattpad misalnya. Mereka yang tidak menyukai wattpad pun akan berkreasi melalui tumblr, blog, facebook notes atau media yang lain.

Ini belum para penulis yang bergabung dengan komunitas dan lebih suka menulis keroyokan. Mereka ini para penulis baru yang sangat berpotensi viral atau terkenal di tahun 2019 nanti. So, intinya, persaingan antar penulis akan semakin ketat. 

Tetap semangat menulis ya writers.

6. Maraknya buku pre-order dan buku digital

Mahalnya buku fisik membuat para penulis dan penerbit akan beralih ke buku pre order dan buku digital. 

Buku pre order memang biasanya lebih mahal daripada buku fisik. Tapi buku pre order memberikan waktu bagi para pecinta buku untuk mengumpulkan uangnya sebelum akhirnya membeli buku tersebut. Selain itu waktu yang dibatasi dalam buku pre order menjadi alasan tersendiri bagi pencinta buku karena tidak setiap hari buku itu dicetak.

Sementara buku digital jauh lebih murah dari buku fisik. Karena bentuknya file sehingga bisa disimpan di gawai seperti telepon pintar. Bentuknya yang nggak besar dan bisa diakses dimanapun dan kapanpun membuat buku ini lebih banyak dilirik oleh pecinta buku.

Jadi, mau masih menyangkal kalau buku pre order dan buku digital nggak bakalan booming di tahun 2019?

7. Bangkitnya penerbit minor dan indie

Penerbit mayor atau penerbit besar selalu punya standar yang cukup tinggi dalam menyeleksi naskah dari para penulis. Makannya nggak jarang dari seratus naskah yang masuk hanya lima hingga sepuluh saja yang diterima. Lha sisanya kemana? Ya dibuang dong ke tempat sampah.

Sementara, di negeri tercinta kita ini, banyak sekali orang yang ‘ingin jadi penulis’ dan nerbitin bukunya. Termasuk saya sih. #hehehehe

Nah ini jadi kesempatan bagi penerbit minor dan indie. Mereka menyediakan jasa menerbitkan buku yang tanpa proses seleksi. Ada yang gratis ada pula yang berbayar. Tergantung si penerbitnya. Terlepas dari kualitas tulisan yang dihasilkan, penerbit minor dan indie ini menjadi semacam dewa penolong bagi para penulis.

Bahkan, sekarang ini, penerbit mayor pun sudah ikut-ikutan membuat lini penerbitan minor dan indie. Sebut saja Indie Stiletto Book yang merupakan anak usaha Penerbit Stiletto atau Mizan Indie Publishing milik Penerbit Mizan.

8. Semakin banyak buku yang jadi film

Dylan 1990 mungkin jadi tolak ukur dalam hal ini, meskipun sebenarnya sebelum Dylan 1990 sudah banyak buku yang diangkat menjadi film. Cuma kesuksesan yang didapat Dylan 1990 menjadi nilai tersendiri. Ternyata sebuah film yang diangkat dari sebuah buku juga bisa mendapat kesuksesan yang sama seperti bukunya.

Oh ya, buku-buku seri wattpad juga banyak lho yang diangkat menjadi film. Sebut saja Galaksi dan Melodylan. 

Dan, menurut saya, setahun kedepan akan semakin banyak buku-buku yang diangkat menjadi film. Terlebih buku-buku yang sudah punya pembaca setia. Karena kalau mengikuti hitung-hitungan sederhana, sebuah buku yang punya banyak pembaca akan memiliki penonton yang banyak pula saat difilmkan.

Jelas ini jadi ‘makanan empuk’ bagi film maker. Mereka juga berkarya membuat film, tapi tak lupa pula kan untuk memperoleh keuntungan.

9. Komunitas baca semakin marak

Jujur saja ya, saya agak pesimistis dengan semangat literasi dan minat baca masyarakat kita. Ya meskipun nggak boleh sih seperti itu. 

Tapi saya tetap optimistis kok kalau kalau minat baca dan semangat literasi masyarakat kita bisa dibentuk dan ditumbuhkan. Saya yakin diluar sana juga banyak orang optimis yang sudah bertindak dengan mendirikan komunitas baca.

Mereka membuat komunitas baca baik secara online maupun offline. Dan setahun kedepan, akan semakin banyak komunitas baca yang bermunculan. Karena saat ini kegiatan literasi juga digalakkan oleh pemerintah, masuk kurikulum sekolah pula. 

So, nggak ada salahnya tetap optimis.

Hmmm….

Itu dia prediksi dunia literasi dan perbukuan yang menurut saya akan terjadi di tahun 2019. Ya namanya juga prediksi, nggak semuanya harus terjadi kan ya. Bahkan nggak menutup kemungkinan nggak akan terjadi semuanya. Sebab semua terjadi karena kehendak Tuhan.

Tapi apa yang saya tulis sudah saya rangkum dari femonena perbukuan dan literasi beberapa tahun kebelakang. Kalau kamu setuju silahkan acungkan jari di kolom komentar ya.

Kalau ada yang nggak setuju dan punya prediksi sendiri silahkan tuliskan juga di kolom komentar. Jangan lupa di share ya tulisannya. 

Selamat membaca. Jangan lupa bahagia
________________________________________________________

Yeay. Abis ini ganti tahun ya. Nggak kerasa juga, rasanya baru kemarin saya merancang resolusi tahun 2018 dan sekarang tahun 2018-nya udah mau abis aja. Dan Syukur banget semua resolusi saya di tahun 2018 terwujud semua. Meskipun bukan resolusi besar, tapi saya tetap bersyukur.

Nah, sekarang saatnya merancang resolusi baru nih. Tapi karena saya ini orangnya pemalu, jadi saya nggak akan menulis resolusi diri saya pribadi disini. Mungkin resolusi untuk blog ini saja yang akan saya tulis. Barangkali kamu punya saran atau jalan untuk mewujudkan resolusi itu, bisa tulis di kolom komentar ya.

Sebenarnya untuk resolusi blog ini, saya pingin kayak blog yang satunya. Ada kaleidoskop 2018 sekalian resolusi tahun 2019. Tapi yang mau dirangkum apanya, lha wong di blog ini masih punya satu postingan doank. Itupun isinya celoteh saya tentang membaca. 

#wkwkwk

Lagipun, blog ini juga belum ada pembacanya sama sekali. Kalau lihat di dashboardnya masih kosong melompong. Yang baca cuma saya, Tuhan dan google aja.

#hahaha – keliatan banget kalau blog baru.

Nah karena itu, saya cuma buat resolusi saja. Itupun Mini Resolusi. Maksudnya, resolusi untuk blog ini nggak muluk-muluk banget. Sekedar resolusi kecil yang kalau tercapai cuma bikin bibir senyum-senyum aja. Toh blog ini benar-benar saya jadikan catatan pribadi saya. Kalau memberi manfaat, syukur Alhamdulillah. Kalau tidak yang nggak apa-apa.

Mini Resolusi Blog Muham Diaries Tahun 2019

1. Mengisi blog minimal 50 postingan

Ya sama dengan blog saya yang satunya sih. Cuma kalau blog satunya minimal 100 postingan. Kalau belum baca, silahkan baca artikel saya yang judulnya Kaleidoskop Tahun 2018 Dan Resolusi Tahun 2019 Untuk Blog Guru Rumahan.

Saya nggak terlalu ngebet supaya blog saya yang satu ini punya 100 postingan seperti blog guru rumahan. Kalau ditanya kenapa ya saya cuma bisa senyum-senyum saja. Mungkin karena saya nggak terlalu ngebet juga memonetize blog ini kali ya. Jadi kesannya nyantai gitu.

Lagian dengan target yang relatif kecil, saya bisa menikmati proses menulis blog saya supaya jadi lebih personal. Tsah.

2. Mengenalkan blog ke orang sekitar

Ini sama dengan resolusi di blog satunya. Saya nggak terlalu ambisius untuk mengenalkan blog ini ke seluruh orang di Indonesia atau seluruh dunia. Tapi ini kan dunia internet ya, jadi kalau ada orang-orang diluar lingkungan saya yang mengetahui blog ini ya kagak masalah juga. Saya malah seneng. Apalagi kalau tulisan saya bisa memberikan insipirasi buat para pembaca.

Tujuan saya mengenalkan ini sebenarnya ingin membuka ruang diskusi dengan teman-teman saya. Karena sekarang ini saya jarang bahkan sulit ketemu dengan mereka. Alasannya klise, karena semuanya sudah semakin sibuk. Apalagi yang udah pada kawin dan punya anak. Saya yang jomblo ini jadi kesepian. #hikshikshiks

Tapi saya nggak menutup kemungkinan kepada orang yang belum saya kenal untuk berdiskusi. Monggo. Silahkan. Blog ini terbuka untuk siapa saja. Jadi jangan lupa komentar ya. Hehehe.

3. Pageview 50/hari

Saya memang nggak terlalu ngebet untuk memonetizasi blog ini. Cuma saya nggak bisa mengabaikan peran para pembaca. Sebuah blog hidup dari pembaca. Kalau blog dibuat terus nggak ada yang baca ya sama aja dengan blog mati. Masa iya setan yang baca. ‘Kan nggak mungkin ya.

Makannya saya membuat resolusi ini. Ya seenggaknya diantara 50 orang yang membaca blog saya tiap hari itu ada salah satu yang jodoh saya, eh keliru, ada yang bisa memberikan kritik, saran dan ide yang keren demi kemajuan blog ini. 

4. Menyebarkan semangat membaca ke orang sekitar

Meskipun blog ini namanya Muham Diaries, tapi isinya nggak semua kegiatan saya sehari-hari kok. Blog ini justru saya khususkan untuk kegiatan literasi yang saya lakukan sehari-hari. Mulai dari penafsiran pribadi saya tentang sesuatu, review buku dan film yang diadaptasi dari buku, serba-serbi tentang kegiatan membaca dan literasi, dan nggak menutup kemungkinan tempat promosi karya-karya saya.

Eits, jangan salah ya. Saya pernah loh nerbitin buku. Sekali. Tapi bukunya nggak laku. #Whahahahaha

Kenapa resolusi ini saya buat. Jujur saja yang namanya membaca bukan jadi kebiasaan di lingkungan sekitar saya. Termasuk anak didik saya di tempat bimbel. Kebanyakan orang-orang di sekitar saya lebih suka budaya lisan daripada budaya baca. Nah, makanya melalui blog ini saya coba menyebarkan virus dan semangat baca, setidaknya untuk orang-orang sekitar saya.

5. Membuat challenge membaca

Ini salah satu cara untuk mewujudkan resolusi yang nomer 4 tadi. Kalau saya ingin orang-orang berbudaya baca ya harus dimulai dari saya kan. Nggak mungkin juga saya nyuruh orang membaca tetapi saya sendiri nggak membaca. 

Sebenarnya tiap hari saya selalu luangkan waktu untuk membaca. Hanya saja challenge ini saya buat supaya lebih disiplin aja sih, sekaligus bisa terkonsep. Jadi selama setahun kedepan akan ada satu buku berbeda yang saya kupas tuntas setiap bulannya. Nggak menutup kemungkinan akan ada giveaway (kalau ada duitnya ~ hahaha) buku seperti yang saya baca. Doain rejeki saya lancar terus ya. Biar bisa kasih giveaway.

Oh ya, silahkan kamu beri saran kira-kira buku apa yang bisa saya baca selama 12 bulan ke depan. Genre buku apapun boleh, sebab saya nggak pernah membatasi bacaan saya pada satu genre, meskipun saya lebih suka science fiction sih. Hehehe…

Nah, itu dia lima resolusi yang saya buat untuk blog ini. Bener-bener mini kan. Resolusi yang kecil dan nggak besar kayak para blogger yang udah terkenal (padahal aslinya pingin buat resolusi besar kayak blogger besar).

Ya, semoga ini jadi awal setelah saya gagal dengan blog-blog saya yang terdahulu. Mungkin kamu juga punya resolusi untuk tahun 2019. Coba tulis di kolom komentar deh. Biar saya juga tahu apa resolusi kamu di tahun yang baru.

Happy Chrismast buat yang ngerayain dan selamat tahun baru untuk kamu semua.
__________________________________________
Saya nggak tahu ya kenapa bisa hobi baca. Tapi menurut cerita banyak orang, saya emang bisa baca bahkan sebelum sekolah. Itu artinya saya bisa baca sekitar umur 4 tahun. Karena saya sekolah, lebih tepatnya masuk TK itu pas usia 5 tahun.

Bukannya ingin sombong atau pamer, saya rasa di luar sana banyak juga kok anak yang bisa baca sebelum bersekolah. Bahkan ada yang umur dua tahun sudah bisa baca. Jadi, nggak ada yang perlu disombongkan bukan?

Maksud saya begini, saya ini heran dengan diri sendiri, kok bisa saya begitu demen dan hobi sama kegiatan baca. Kenapa saya bilang hobi? Sebab saya nggak tahan kalau lihat buku di toko buku. Pinginnya beli gitu. Terus nanti kalau udah kesampaian beli buku, bisa ‘kawin’ sama itu buku berhari-hari. Setelah habis, pingin beli lagi.

Cuma saya nggak seekstrim seorang bibliomania yang suka koleksi buku berlebihan gitu. Ada keperluan lain yang harus dipenuhi kan selain hanya membeli buku?

Sebenarnya nggak hanya buku saja sih. Pokoknya kalau ada bacaan apa aja langsung pinginnya disikat. Dibaca waktu itu juga sampe habis.

Makanya, dirumah saya itu ada banyak sekali buku. Mulai dari buku pelajaran, komik, novel, kumpulan puisi, biografi hingga majalah lama pun ada. Dulu saat saya masih rajin menghitung, jumlahnya ada ribuan. Tapi kayaknya sekarang udah banyak berkurang karena banyak yang dipinjem orang tapi nggak balik-balik. Ya sudahlah ya, ikhlasin aja, itung-itung sedekah. Hahaha…

Apalagi jaman sekarang sudah canggih. Semua bacaan sudah bisa diakses melalui smartphone. Jadi sekarang saya jarang beli buku fisik, kecuali kalau ada buku yang sudah saya tunggu-tunggu atau kalau ada gratisan dari penulis-penulis baru yang sering ngadain giveaway. Kelihatan banget ya kalau pemburu gratisan.

Hal lain yang membuat saya mengidentifikasi (ciye bahasanya ketinggian) diri sebagai penghobi baca adalah ucapan teman-teman saya.

“Elu kagak baca sehari gitu mati ya?”

Ada juga yang bilang begini, “Aku juga suka baca, tapi heran kalau lihat elu. Kayak orang gila kalau sudah lihat buku.”

Emang sebegitunya banget ya? Tapi saya nggak menyangkal sih. Teman-teman saya sendiri banyak yang suka baca. Mereka juga punya koleksi buku-buku dirumahnya. Cuma mereka biasa aja gitu terhadap kegiatan baca.

Yah apa mau dikata. Seperti inilah kondisinya. Jadi saya nggak bisa melawan kan?

Mungkin kegilaan saya terhadap membaca tumbuh dari rumah saya. Seluruh anggota keluarga saya demen banget sama yang namanya membaca. Kakak-kakak saya demen. Ibu saya yang matanya udah remang-remang begitu, masih suka baca sampai sekarang. Ya, meskipun kedemenan kami soal buku yang dibaca itu berbeda-beda. Tapi atmosfer membaca selalu ada dalam rumah saya.

Namun, meskipun begitu, saya kira ada hal lain yang perlu dikoreksi kembali dari kegiatan “MEMBACA” yang sering saya lakukan. Mungkin juga kamu. Jadi, sila lanjut ya.

TUHAN MEMINTA KITA UNTUK MEMBACA. TAPI ADA YANG LEBIH PENTING LHO DARI SEKEDAR MEMBUNYIKAN HURUF-HURUF.

Ketika saya masuk MI (setingkat SD), saya pernah mendapat cerita tentang wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Wahyu pertama inilah yang mungkin juga membuat saya suka sekali dengan membaca. Sebagian besar orang barangkali sudah tahu apa yang ingin saya katakan. Klise? Ya benar. Tapi memang seperti itulah yang saya alami.

Toh nggak semua orang tahu, jadi saya akan tetap menuliskannya. So, I’m sorry. Maaf juga untuk teman-teman yang non-muslim. Kalau kurang berkenan silahkan dilewati saja.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Hampir semua orang Islam tahulah. Ayat itu diawali dengan kata Iqra yang artinya bacalah. Dulu ketika masih MI saya nggak ngerti apa maksud dari kata itu. Cuma pas saya SMA, barulah saya mulai memahami.

Mengapa Tuhan menyuruh kita untuk membaca?

Saya pikir setiap orang punya persepsi masing-masing dalam menafsirkan ayat ini. Terutama kalimat Iqra yang menjadi pembuka surat. Menurut saya membaca memang sesuatu hal yang penting sehingga Tuhan merasa perlu memerintahkannya kepada umat manusia.

Namun, menurut saya membaca bukanlah sekedar membunyikan huruf-huruf. Kalau sekedar membunyikan huruf-huruf, anak kecil yang baru bisa mengeja juga bisa kan. Ada hal yang lebih penting, yaitu KESADARAN.

Kesadaran menjadi semacan pembuka gerbang. Nah gerbang yang dibuka adalah gerbang hati. Jadi kesadaran adalah kunci untuk membuka hati. Ketika hati sudah dibuka maka ilmu, apapun itu akan bisa masuk kedalamnya melalui kegiatan yang namanya membunyikan huruf-huruf tadi.

“Lho bukannya membunyikan huruf juga disebut membaca?”

Ya kalau ada yang bilang begitu saya nggak akan mendebatnya. Seperti yang saya tulis sebelumnya bahwa setiap orang memiliki persepsi masing-masing soal ini. So, you can say anything.

Nah begini. Mengapa saya bilang kalau kesadaran lebih penting dari sekedar membunyikan huruf-huruf?

Sebelum seseorang pandai membunyikan huruf, pasti ia harus melihat dan mendengar dulu. Mengenali huruf-huruf dan mendengarkan bunyi. Melihat dan mendengar adalah bentuk kesadaran awal.

Ketika Kanjeng Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu pertama tadi, beliau belum tahu tentang huruf. Beliau harus dituntun menirukan (bukan membaca) ayat-ayat suci oleh Malaikat Jibril. Setelah pulang pun, beliau belum paham apa yang barusan diucapnya bersama Malaikat Jibril. Beliau baru paham setelah mendapatkan penjelasan dari salah satu saudara istri beliau. Harus sadar dulu kan, baru apa yang diucapkan bermakna.

Sama halnya dengan membaca. Setelah mengenal bunyi dan huruf, kita bisa merangkainya menjadi kata, kalimat, frase dan paragraf. Tapi apakah kita langsung memahami apa yang kita bunyikan. Belum kan? Kita hanya membunyikan saja tulisan yang ada. Nah, baru setelah agak besar kita mulai paham apa yang kita baca.

So, menurut saya, membaca baru bisa disebut membaca ketika kita sudah memahami apa yang kita bunyikan. Kalau hanya sekedar membunyikan huruf tanpa memahami isinya, belum bisa dikatakan membaca. Maka pemahaman tentang sesuatu yang dibunyikan ini butuh kunci yang namanya KESADARAN tadi.

Itulah kenapa KESADARAN terhadap tulisan, jauh lebih penting daripada membunyikan huruf-huruf (yang selama ini dipahami sebagai membaca) itu sendiri. Karena tanpa kesadaran, MEMBACA hanya akan jadi kegiatan huruf demi huruf semata. Kita nggak akan paham apa yang sudah kita bunyikan.

MEMBACA ITU LUAS. SELUAS SAMUDRA DAN LANGIT YANG MENGHAMPAR.

Banyak orang yang bilang membaca itu harus kitab suci atau buku. Saya dulu juga begitu. Sebenarnya nggak salah juga sih. Sebab ketika bersekolah, kegiatan literasi selalu berhenti pada kegiatan membaca naskah atau teks saja.

Kita jarang sekali diajarkan untuk membaca dalam konteks yang lebih luas. Membaca alam semesta, karakter teman atau gejala alam. Padahal kegiatan membaca dalam konteks yang lebih luas bisa menjadi awal dari wawasan yang lebih luas lagi.

Coba tengok nenek moyang kita jaman dulu. Mereka membaca langit di malam hari. Akhirnya bisa menemukan pola bahwa rasi bintang tertentu menjadi penunjuk arah. Ketika jaman sudah sedikit modern semua hal itu dicatat dan jadi sumber ilmu pengetahuan di masa kini.

Atau nenek moyang yang menjadi petani, mereka membaca musim bertahun-tahun lamanya hingga kemudian nemuin pola tanam di sawah sesuai musimnya. Dijaman modern siklus musim itu dinamakan Pranata Mangsa.

Nah, jika dalam sebuah novel atau cerita biasanya ada makna tersirat yang nggak tertulis di buku. Itu kan butuh kesadaran pembacanya untuk menangkap maksudnya. Lha kalau sekdedar membunyikan huruf mana bisa ditangkap maksudnya. Iya kan?

Jadi apapun di alam semesta ini bisa kita baca dalam artian kita sadari maksudnya dan kita pahami apa yang tersembunyi di baliknya.

Saya nggak bermaksud buat ngeguruin siapapun. Toh tulisan ini juga saya pakai sebagai catatan pribadi atas apa yang ada di pikiran saya. Jika memang kurang berkenan maafkan ya.

Selamat menikmati hidup. Selamat membaca alam semesta.